Senin, 18 Mei 2015

Proses Memiliki Rumah (1)

 Puri Harmoni 7 (bag. 1)



Saya dan isteri telah memiliki satu pandangan soal rumah pertama yang kami rencanakan, dan perumahan Puri Harmoni 7 masuk dalam beberapa kriteria kami. Walaupun tidak sempurna, kami cukup merasa senang dan bersyukur.

Mungkin memang seperti kata orang, membeli rumah itu seperti mencari pasangan hidup. Harus ada jodoh. Hal itulah yang kami rasakan. Awalnya kami tidak melirik daerah Cileungsi dan sekitarnya dalam radar pencarian kami. Namun ternyata disini kami merasa menemukan yang kami cari.

Puri Harmoni 7 adalah perumahan subsidi yang memiliki harga terjangkau dengan DP yang ringan. Seperti yang dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, saya membayar booking fee sebesar 1 juta rupiah dan DP sebesar 15,2 juta rupiah yang saya cicil hingga 7x. Sampai tulisan ini dibuat saya sudah masuk cicilan ke-6. Dan dalam tulisan ini saya ingin berbagi pengalaman yang telah dilewati selama proses ini dijalani.

Semoga berkenan ya…

Setelah perjalanan kami berburu rumah beberapa waktu lalu, (dalam tulisan lika-liku mencari rumah), akhirnya kami memilih perumahan Puri Harmoni 7. Lokasi perumahan ini berada di desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor.

Alasan dasarnya sederhana, bahwa perumahan ini menawarkan harga yang sangat bersahabat dengan kami. Ditambah lokasi perumahan yang walau agak sedikit jauh dari tempat aktivitas bekerja, namun suasananya sesuai dengan harapan kami.

Pak Taufik, selaku marketing perumahan Puri Harmoni 7, telah menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan perumahan dan syarat KPR-nya.


Pak Taufik dan Pak Hendra saat menjelaskan kepada kami
Pada tanggal 10 Januari 2015, saya dan isteri mendatangi kantor pemasaran Puri Harmoni 7 yang saat itu masih menempati sebuah bangunan toko di pinggir jalan raya Klapanunggal, sekitar 1 KM dari lokasi perumahannya. Tujuan kami adalah untuk menyerahkan bukti setoran tanda jadi kami yang beberapa hari lalu dibuat oleh Pak Taufik saat saya menyerahkan uang booking fee dan nantinya akan ditukar dengan kwitansi pembayaran dari developer, sebagai alat bukti pembayaran yang dianggap sah.


Selain itu kami juga akan menerima berkas persyaratan yang diminta dilengkapi oleh developer untuk kemudian diajukan KPR-nya ke Bank BTN, selaku bank yang bekerjasama dengan perumahan Puri Harmoni 7.

Saat itu saya dan isteri cukup terkejut dengan banyaknya orang yang ada disana. Ternyata mereka juga calon-calon penghuni di Puri Harmoni 7. Sebagian dari mereka telah menyerahkan berkas-berkas yang diminta untuk pengajuan KPR, serta sebagian yang lain baru membayar tanda jadinya. Bahkan ada yang baru berkunjung dan masih melihat-lihat terlebih dahulu perumahannya.

Melihat banyaknya orang yang terlihat antusias dengan perumahan ini, membuat saya merasa yakin bahwa ini perumahan yang baik dengan developer yang insya Allah juga baik. Meskipun hingga saat itu, saya belum meneliti lebih detil tentang developer Puri Harmoni 7.

Setelah menunggu antrian beberapa saat, tiba giliran saya dan isteri yang duduk dihadapan pihak developer. Dengan ramah, wanita muda yang merupakan bagian pemasaran, menyapa kami. Setelah menyerahkan bukti pembayaran kami, kami menerima kwitansi pembayaran dari pihak pemasaran yang dianggap sebagai bukti pembayaran yang sah.

Kemudian staff developer tersebut memberikan beberapa berkas untuk persyaratan KPR. Ia menjelaskan beberapa point, terutama berkas yang berkaitan dengan surat belum pernah memiliki rumah dan surat keterangan bekerja serta pendapatan per bulannya. Ia menjelaskan bahwa maksimal gaji pokok harus 4 juta rupiah per bulan dan sudah berstatus karyawan tetap minimal 1 tahun.

Kami diberi waktu maksimal 14 hari kerja untuk melengkapi semua berkas-berkas KPR.

Setelah selesai urusan dengan developer, saya mengajak isteri untuk melihat ke lokasi yang jaraknya sekitar 1 KM dari saat ini kami berada. Awalnya isteri agak segan, karena hujan yang baru reda membuat jalanan terlihat becek. Namun setelah saya bujuk akhirnya ia mau melihat ke lokasi perumahannya.

Jujur, saya kurang mendapatkan ekspresi yang saya harapkan dari isteri saat tiba di lokasi perumahan. Harapan saya, ia akan menunjukkan ekspresi antusias. Tapi ternyata agak datar saja responnya. Seperti ada sedikit keraguan dalam wajahnya.

Agar menenteramkan hatinya, saya memberikan alasan-alasan dan harapan saya dengan membeli rumah disini kepada isteri.

Saya mengerti apa yang saat itu dipikirkannya. Yaitu jarak antara rumah yang rencana kami beli dengan lokasi tempatnya bekerja, lebih jauh dari rumah kontrakan kami saat ini. Dimana, bila menggunakan motor hanya 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke kantornya dari rumah kontrakan kami. Namun bila rumah kami disini, menurut Google Maps, dibutuhkan sekitar 50 menit sampai 1 jam.

Setelah melihat dan mengamati sesaat lokasi perumahan, kami pun beranjak pulang. Selama perjalanan pulang saya agak cemas bila isteri kurang suka dengan perumahan tersebut. Karena dari awal survey hingga memberikan uang tanda jadi, ia tidak bisa ikut. Dan menyerahkan keputusannya kepada saya.

lokasi perumahan yang masih berupa lahan kosong
Namun ternyata kecemasan saya berangsur hilang, tatkala isteri mengatakan bahwa ia cukup terkejut dengan begitu banyaknya orang-orang yang tertarik dengan perumahan itu. Seperti yang dilihatnya di kantor pemasaran. Saat kami berbincang-bincang dengan beberapa calon pembeli di perumahan itu, ternyata banyak juga orang yang membeli rumah di Puri Harmoni 7, meski lokasi bekerjanya di sekitar  Jakarta Selatan dan bahkan ada yang di Jakarta Barat.

Saya bersyukur karena akhirnya isteri setuju seratus persen bila kita membeli rumah di perumahan Puri Harmoni 7. Kami pun mulai melengkapi syarat-syarat yang diminta untuk pengajuan KPR.

Nanti dilanjut ya…



Kamis, 07 Mei 2015

Lika-liku mencari rumah pertama (4)

PERBURUAN AKHIR (bag.4)


rumah contoh yang masih tahap finishing
Setelah siang itu saya melihat ke lokasi perumahan di daerah Cileungsi bersama Zerlina, putri kecil kami yang baru berusia 7 tahun, malamnya saya dan isteri berdiskusi. Terkadang putri kami ikut memberikan pendapatnya dengan antusias.


Saat saya meminta pendapat isteri tentang rencana saya yang esok hari ingin memberikan booking fee di perumahan tersebut, ia mempercayakan saja hal itu kepada saya. Ia setuju untuk mencoba membeli rumah di perumahan tersebut dengan sistem KPR atas namanya. Kebetulan bank yang bekerjasama dengan perumahan tersebut adalah bank BTN. Dimana kami sudah membuka rekening atas nama anak kami dengan walinya adalah isteri. Dan soal BI checking sebagai salah satu syarat pengajuan KPR bersubsidi, isteri merasa tidak ada masalah. Namun ia akan segera melakukan BI checking sendiri, sebab ada famili yang dirasa bisa membantu melakukan pemeriksaan tersebut, karena ia bekerja disebuah bank pemerintah.

Pagi harinya saya hanya sendiri kembali ke Cileungsi menuju ke perumahan yang kemarin telah saya kunjungi. Kembali saya mengamati suasana lokasi sekitar perumahan. Saya mencoba untuk benar-benar merasakan getaran hati. Sebab kata orang mencari rumah tinggal untuk kita huni, seperti mencari jodoh. Harus ada getaran-getaran rasa…hehehe…

Dan saya merasakan getaran itu. Semakin lama saya mengamati, seolah semakin ada rasa yang mendorong saya untuk segera mengambil langkah nyata mewujudkan impian keluarga kecil kami. Akhirnya saya kembali menemui Pak Taufik yang saat itu sedang memberikan penjelasan dengan calon pembeli seperti saya.

Hari itu tanggal 31 Desember 2014, lebih ramai orang yang datang mengunjungi perumahan ini dibanding kemarin saat saya datang bersama Zerlina. Sambil menunggu Pak Taufik yang masih sibuk dengan customer lain, saya berbincang-bincang dengan salah seorang laki-laki yang ternyata sudah melakukan pembayaran DP untuk satu unit dengan luas tanah standard yaitu 60 m.

Laki-laki yang sepertinya berusia tidak jauh berbeda dengan saya tersebut, mengatakan bahwa ia sudah melakukan survey di beberapa perumahan di Cileungsi, dan perumahan ini adalah perumahan yang memiliki harga paling terjangkau baginya yang hanya bekerja sebagai karyawan kecil di sebuah pabrik yang juga berada di daerah Cileungsi ini.

Kemudian ada juga pembeli yang berasal dari Daan Mogot, Jakarta Barat. Wow, jauh sekali. Entah untuk ditempati atau sekedar hanya untuk investasi saja. Tapi yang jelas, setahu saya menurut peraturan pemerintah tentang perumahan subsidi, bahwa rumah yang dibeli dengan fasilitas KPR FLPP adalah rumah pertama. Artinya bukan untuk investasi. Ditambah ada aturan yang mengatakan bahwa rumah tidak boleh kosong selama 1 tahun berturut-turut. Tidak boleh disewakan atau dipindahtangankan sebelum 5 tahun masa KPR tanpa sepengetahuan bank pemberi KPR.

Tapi memang sepertinya perumahan ini cukup banyak peminatnya. Mungkin selain harga yang murah, bentuk rumah yang cantik tapi juga lokasi yang tidak terlalu jauh dengan Jakarta dan Bekasi. Dibanding lokasi perumahan lainnya yang dengan harga yang sama tapi lokasi yang lebih jauh.

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Pak Taufik menemui saya. Ia sepertinya tidak menyangka bila saya benar-benar berminat dengan unit rumah di sini. Sebab kemarin, saya memang tidak menunjukkan ekpresi yang serius berminat. Selain itu pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan mungkin terkesan skeptis. Hal itu sengaja saya lakukan karena saya ingin benar-benar mengetahui detail tentang lokasi perumahan dan latar belakang pengembang. Walaupun hingga hari itu saya belum benar-benar mengetahui pengembangnya. Hanya sebuah nama, PT. Vista Bangun Multiguna. Anggota dari Vistaland group.

Pak Taufik kembali memberikan penjelasan bahwa proyek-proyek perumahan yang dibangun oleh Developer ini memang mengkhususkan diri pada proyek perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dimana harga jualnya memang sangat terjangkau. Meski disebut perumahan bersubsidi, tapi bentuk dan kualitas unit rumah yang dibangun tidak terkesan asal-asalan.

 Mendengar penjelasan Pak Taufik tentang proyek-proyek yang sudah dan sedang dikerjakan oleh developer ini, saya berasumsi positif, bahwa pengembang ini sudah cukup berpengalaman. Artinya, Insya Allah bahwa pengembang ini bukanlah pengembang nakal. Saya sering mendengar bahwa banyak sekali pengembang-pengembang nakal yang sangat merugikan konsumen. 

Akhirnya dengan mengucapkan basmallah saya melakukan pembayaran booking fee sebesar 1 juta. Dan saya memilih kavling Blok B2, yang berada di sisi jalan utama perumahan, dengan luas tanah 72 m.  Karena ada kelebihan tanah dari luas standard dan letak strategis, saya harus membayar DP sebesar Rp. 15.200.000,- yang dapat diangsur selama 7x atau 7 bulan. Dan berkas-berkas untuk pengajuan KPR diminta dilengkapi dalam waktu 2 minggu setelah booking fee. 

Alhamdulillah, kini kami telah memulai satu langkah penting dalam hidup. Semakin dekat dalam mewujudkan mimpi besar kami.

Karena saat itu kavling yang saya pilih masuk dalam tahap 4 rencana pembangunannya. Maka saya baru akan diwawancara oleh pihak bank BTN yang bekerjasama dengan perumahan ini, sekitar bulan Juli. Wah…lama juga ya…walaupun secara pembayaran DP jadi lebih ringan. 

Dan petualangan selanjutnya yang lebih seru dimulai dalam tulisan bagian 2 yaitu Proses memiliki rumah dengan KPR bersubsidi.

 

Senin, 04 Mei 2015

Lika-liku mencari rumah pertama (3)

PERBURUAN (bag. 3)


Kami telah memberikan tanda jadi hanya sebesar 200 ribu rupiah pada sebuah perumahan di daerah Pondok Rajeg. Semula kami memang ingin membeli rumah secara tunai. Dengan alasan bahwa kami bukan karyawan dari sebuah perusahaan. Saya seorang pekerja lepas di bidang entertainment sedang isteri masih sebagai ibu rumah tangga. Ada sumber dana yang kami harapkan bisa cair dalam 1 bulan, sehingga kami dapat segera merealisasikan mimpi kami.

Namun kenyataan berbicara lain, saya harus melupakan sumber dana untuk rumah impian kami tersebut. Dan kami pun gagal mendapatkan rumah pertama kami di usaha yang pertama.

Akhirnya selama lima tahun kami tidak lagi mencari tahu tentang harga-harga perumahan atau tentang rumah-rumah yang dijual. Seolah kami mengubur mimpi kami tersebut. Dan tanpa terasa isteri sudah menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan swasta selama 3 tahun. Terdorong oleh cerita teman-teman yang berhasil memiliki rumah sendiri melalui KPR, akhirnya saya memutuskan bahwa inilah saatnya kita mewujudkan mimpi kami yang lama terpendam.

Awalnya isteri masih belum yakin bahwa kami mampu untuk mewujudkan mimpi kami tersebut. Sebuah rumah untuk kami miliki adalah sebuah mimpi besar. Tapi saya mencoba meyakinkannya, lagipula puteri kami sudah semakin besar. Ia akan membutuhkan ruang privacy nantinya. Akhirnya isteri pun menyetujui, tapi ia tidak bisa ikut hunting lokasi seperti waktu itu karena pekerjaannya.

Semula lokasi tujuan selanjutnya saya mau mencoba ke daerah Bekasi Selatan sampai Bekasi Barat. Tapi agak mikir juga karena katanya air tanahnya kurang bagus. Akhirnya saya ke Citra Indah di dekat Jonggol, kebetulan ada famili yang tinggal disana, jadi bisa sekalian cari-cari info sekaligus bersilahturahmi.

Setelah chit-chat sebentar, akhirnya Om saya yang telah cukup lama tinggal di sana, bersedia mengantar saya ke cluster-cluster yang sedang dipasarkan dengan harga yang sesuai dengan kami. Ternyata Citra Indah lumayan luas. Bahkan menurut Om saya, akan ada rencana jalan dari perumahan itu yang akan tembus ke Sentul. Wow, jadi mudah aksesnya bila kita berkegiatan di  daerah Kota Bogor atau Depok. Cuma yang cukup disayangkan, kebanyakan type 36 yang harganya bersahabat bagi kami hanya memiliki 1 kamar tidur saja….. Padahal ini type 36…….kan ? Ada juga type 36 dengan 2 kamar namun luas tanah yang lebih besar, jadi harganya lebih tinggi.

Beberapa hari kemudian saya kembali browsing di internet. Ternyata ada juga perumahan di Cileungsi yang harganya dibawah 120 juta. Karena kami sudah pernah melihat rumah yang dijual dengan harga seperti itu, dan sepertinya tidak cocok buat kami. Saya sempat menyisihkan dari pilihan. Setelah beberapa hari dan minggu sudah terkumpul beberapa pilihan. Kini saatnya mulai melakukan penelitian lebih detil dari beberapa pilihan yang ada dengan harapan dapat yang sesuai hati kami.

Namun ternyata banyak yang belum berjodoh rumah-rumah yang ada di daftar kami. Akhirnya saya browsing lagi, dan kembali saya temui iklan perumahan di Cileungsi tersebut. Dan akhirnya saya berniat untuk survey langsung ke lokasi. Dan, kebetulan pula puteri kami pulang sekolah lebih awal, sehingga kami berdua bisa langsung meluncur ke lokasi. Puteri kami sempat menanyakan arah perjalanan, setelah saya sebut ke Cileungsi dia langsung bisa menebak bahwa kami akan melihat rumah yang mungkin bisa kami miliki. Dia terlihat sangat senang dan antusias sekali. Mungkin ini tanda awal yang baik.

Kami melewati jalan Narogong yang sangat berdebu karena banyak truk-truk pengangkut batu kapur dan semen yang berseliweran. Sekitar 4 KM dari pasar Cileungsi ke arah Citeureup, kami berbelok ke kiri yang katanya orang bilang itu adalah jalan alternatif Cileungsi-Jonggol atau ada juga yang bilang kalau itu jalan raya Klapanunggal.

Memasuki jalan Klapanunggal ini polusi debu mulai berkurang. Lebar jalan cukup untuk 2 mobil truk. Setelah kurang lebih 1 KM dan melewati jalan yang berlubang kami tiba di lokasi perumahannya. Karena awalnya memang tidak terlalu minat, saya tidak membawa uang booking yang jumlahnya sudah disebutkan dalam iklan di internet.

Saya cukup terkejut dengan lokasi perumahan itu. Karena dekat sekali dengan gunung. Meskipun itu gunung kapur namun saya menyukai pemandangannya. Di salah satu sisi gunung kapur tersebut terlihat sudah di eksplorasi, sedangkan sisi yang lain masih terjaga keasliannya.

Saya semula hanya berdiri tak jauh dari areal perumahan yang disisi kiri dan kanannya masih ada sawah dan pemandangan depan hamparan pegunungan kapur. Disana sudah ada 3 rumah yang sudah berdiri sebagai rumah contoh dan masih tahap finishing. Dari tempat saya berdiri, sepertinya tampilan rumah tersebut lebih baik dari yang kami lihat diperumahan lain dengan harga yang serupa.

Tiba-tiba seorang marketing menghampiri dan menyapa kami. Ia bernama Pak Taufik dan menjelaskan hal-hal ringan saja seputar perumahan ini. Dan kemudian ia mengajak kami untuk melihat rumah contoh dari dekat.

Setelah mengamati dari dekat, ternyata bangunan rumahnya memang lebih cantik dan maaf, tidak terkesan murahan. Harga cash rumah ini hanya 118 juta all in. Dan untuk KPR ternyata perumahan ini masuk KPR bersubsidi. Artinya bunga hanya 7,25% flat hingga lunas. Dengan membayar booking fee 1 juta rupiah dan uang muka hanya 5 juta rupiah saja, kita sudah bisa langsung pilih kavlingnya. Cicilan hanya 1.050.000 per bulan untuk 15 tahun masa angsuran dan 1.356.000 per bulan untuk 10 tahun masa angsuran.

Pak Taufik menjelaskan syarat-syarat untuk mengajukan KPR. Diantaranya yang utama adalah belum pernah memiliki rumah sebelumnya, berstatus sebagai karyawan tetap minimal 1 tahun, penghasilan tetap tidak melebihi 4 juta sebulan. Kebetulan semua syarat itu sesuai dengan kami. Sementara kami berbincang di ruang tamu yang berukuran 3m x 3m, puteri kami yang sudah kelas 2 SD asyik mengamati kamar-kamar yang berjumlah 2 buah. Ia bahkan sudah mengetahui yang mana yang akan menjadi kamarnya kelak. Dia mengatakan suka dengan rumahnya dan pemandangan yang ada di sekitar perumahan ini.

Namun karena ada beberapa hal yang harus kami pastikan bila ingin mengajukan KPR seperti tentang BI checking, saya belum bisa memberi keputusan kepada Pak Taufik. Walaupun secara lokasi dan bentuk bangunan rumah sudah menggetarkan hati.

Segera setelah saya kembali, saya menghubungi isteri saya bahwa saya sangat tertarik dengan perumahan itu. Dan saya bermaksud untuk melakukan booking fee esok harinya. Karena hari ini sudah tanggal 30 Desember 2014, saya khawatir akan ada kenaikan harga di awal tahun. Ditambah menurut info Pak Taufik bahwa peminat cukup banyak. Saat itu untuk ukuran standard 32/60 sudah habis di tahap ini dan yang tersisa adalah tanah mulai 72m keatas dengan harga tanah lebih adalah 600 ribu per meternya. Tanpa disangka, isteri menyetujuinya untuk saya melakukan pembayaran 1 juta rupiah sebagai booking fee. Padahal ia baru saya infokan via telpon dan belum melihat langsung ke lokasi. Dimana kalau batal, otomatis booking fee hangus. Dan nilai sejuta tentu bukan jumlah yang kecil bagi kami untuk dibuang begitu saja.

Nanti disambung lagi deh…

Lika-liku mencari rumah pertama (2)

PERBURUAN (bag. 2)



Setelah hari pertama kami melihat-lihat lokasi perumahan di sekitar Sawangan hingga Kalisuren, kini kami mencoba menyusur jalan Citayam hingga Cilebut dan berputar ke Cibinong dan kembali ke Depok melalui Pondok Rajeg.

Sepanjang jalan raya Citayam yang berada dipinggir rel kereta Jakarta-Bogor ada beberapa perumahan. Namun kondisi jalan Citayam terasa sempit dibanding daerah Sawangan. Angkot yang jumlahnya cukup banyak, terkadang bila berhenti mengambil penumpang, kurang ke tepi sehingga menyulitkan kendaraan dibelakangnya untuk mendahului. Dan beberapa pasar tradisional yang cukup ramai di sepanjang jalan Citayam hingga Cilebut sering menimbulkan kemacetan. Hal itu membuat kami merasa kurang nyaman dengan lingkungannya dan kami memutuskan untuk lanjut saja ke daerah sekitar Cibinong.

Di Cibinong, akses jalan sangat lebar. Mungkin karena daerah ini adalah pusat pemerintahan Kabupaten Bogor. Kami mencoba mendatangi kantor pemasaran beberapa perumahan yang ada. Namun sayang, harga rumah yang kami inginkan sudah habis. Tersisa unit rumah yang type 45 dengan tanah mulai 84m. Tentu saja harganya lebih tinggi.

Perumahan kedua yang kami lihat, lokasi sekitar 500m dari jalan utama. Type rumahnya seperti yang kami inginkan yaitu type 36 dan ukuran tanah sepertinya 72m. Saat kami bertanya ke marketing soal harga ternyata sesuai harapan kami, tetaaaaapi….lagi-lagi kami harus mengeluarkan dari daftar kami. Karena perumahan ini diperuntukkan utamanya untuk anggota TNI.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke arah Depok melalui Cikaret hingga di Pondok Rajeg, kami menemukan perumahan yang kami rasa sesuai selera. Kami ke kantor pemasaran terlebih dahulu karena belum mengetahui lokasi perumahannya. Dikantor pemasaran, kami diantar dua orang staff yang ramah menuju lokasi dengan menggunakan mobil. Ternyata lokasinya agak dibelakang dari kantor pemasaran, sekitar 800-an meter dengan kondisi jalan yang belum diaspal. Namun menurut salah seorang marketing bahwa jalan ini akan segera di aspal saat peluncuran perumahannya. Oo..ternyata perumahan ini belum launching. Mudah-mudahan harganya masih promo nih, harapan kami sih begitu….hehehe.

Tiba dilokasi saya melihat areal perumahan yang cukup luas dan ada beberapa rumah yang sudah berdiri. Ada juga yang masih dalam pengerjaan di kavling yang berbeda. Di dalam perumahan jalannya sudah lebih baik walaupun belum diaspal, tapi sudah rata.

Ternyata rumah yang sudah rapi itu adalah rumah contoh. Tampak mukanya cukup indah dengan atap yang tinggi. Dan yang membuat saya takjub adalah pemandangan di depan rumah contoh itu. Beberapa meter dari tempat kami berdiri ada sebuah lembah yang cukup besar dan diseberangnya ada gugusan bukit yang hijau. Tentu saja ini adalah pemandangan yang langka bagi kami yang biasa hidup dan beraktifitas di Jakarta. Wow…keren

Saat memasuki rumah contoh juga terasa nyaman. Plafond yang cukup tinggi membuat ruangan terasa adem meski rumah ini type 36. Berbeda jauh dengan yang kami rasakan di Kalisuren. (ya iyalah…harga juga beda).

Spesifikasi bangunan juga mantap dengan atap baja ringan dan genteng datar. Luas tanah standardnya adalah 84m. Saat kami tanya soal harga, mereka malah balik bertanya harga yang kami inginkan. Karena saya sudah dapat info harga standard perumahan daerah sini dan saya bermaksud membayar tunai, saya menyebutkan harga sekitar 30% dibawah harga perumahan sekitar. Setelah mereka hitung dan kalkulasikan, harga permintaan saya disetujui. Wah, tentu saja kami cukup terkejut. Harganya sangat baik sekali.

Kemudian kami diminta memberikan tanda jadi. Namun kami tidak membawa uang banyak saat itu. Akhirnya disepakati uang tanda jadi hanya 200 ribu rupiah…wah.

Setelah menentukan kavling di perumahan tersebut, kami pun menyudahi petualangan kami hari itu.

Rabu, 29 April 2015

Lika-liku mencari rumah pertama (1)

PERBURUAN (bag. 1)




Yang pertama yaitu Perburuan, berisi tentang perjalanan kami menemukan rumah idaman kami. Dan, yang kedua yaitu Proses, berisi tentang pengalaman kami mengikuti proses yang terjadi dalam memiliki rumah setelah kami menemukan rumah yang kami inginkan. 

Semoga bisa bermanfaat…

Sudah sepuluh tahun kami menikah, tetapi belum juga memiliki rumah sendiri. Lima tahun pertama kami masih tidak terlalu khawatir soal itu. Sebab kami masih nyaman tinggal dirumah orang tua yang saat itu memang cukup besar, sehingga mampu untuk ditempati 3 keluarga kecil sekalipun. Selain itu kami masih belum PeDe untuk memiliki rumah sendiri dan orangtua juga menyarankan untuk tinggal bersama dulu sambil mengumpulkan rezeki untuk membeli rumah. Ya betul juga sih, daripada ngontrak. Jadi demikianlah, kami tinggal seatap dengan orang tua meski beda lantai. Dilantai atas yang kami tempati sudah ada dapur, ruang keluarga, KM, KT dan ruang usahaku sendiri, jadi bagaimana kami tidak nyaman….hehehe.

Hingga 5 tahun kemudian, tepatnya tahun 2010, kami baru merasakan pentingnya untuk segera mewujudkan keinginan memiliki rumah sendiri. Kami awali dengan mengontrak sebuah rumah petak yang sederhana di daerah Cibubur. Inilah awal perjalanan keluarga kami seutuhnya. Kami baru merasakan serunya hidup berkeluarga dengan seorang isteri dan seorang puteri kecil yang lucu. 

Awal tinggal terpisah dari orang tua, mulai kami serius memikirkan rumah tinggal sendiri. Kami mulai mendata rumah seperti apa yang kami idamkan. Pertama, kami hanya butuh 2 atau 3 kamar tidur. 1 atau 2 kamar mandi. Ada ruang keluarga dan ruang tamu dan dapur yang cukup nyaman untuk isteri berkreasi masakan.

Setelah data kami sepakati tentang rumah yang kami inginkan, mulailah kami berburu informasi rumah yang dijual dengan spesifikasi data yang sesuai. Awal searching di internet, kami terkejut dengan harga jual rumah di Jakarta yang sesuai keinginan kami.  Harganya diatas 300 juta. Tentunya harga yang terlampau tinggi dari bayangan awal kami.

Lalu kami alihkan pencarian ke lokasi sekitar Depok. Tahun 2010, harga-harga perumahan di sekitar Depok sepertinya lebih rasional bagi kami. Kamipun mulai melihat ke lokasi. Kami mulai dari daerah Sawangan, Depok. Disana cukup banyak perumahan yang kami kunjungi. Ada salah satu perumahan yang sempat kami lirik. Rumah yang ditawarkan adalah Type 36/72.. Dari data spesifikasi bangunan, kami menilai cukup baik dengan harga yang bersahabat. Desain gerbang depan perumahan juga cukup elit bagi kami. Kemudian kami melihat ke kavling yang sedang dipasarkan tersebut. Wow, cukup jauh dari gerbang depan. Karena ini perumahan baru, jadi kavling paling belakang yang baru dipasarkan. Namun karena kami masih mau mencari perbandingan terlebih dahulu dengan perumahan-perumahan lainnya, kami belum melakukan pemesanan rumahnya.

Kemudian kami melanjutkan ke arah Bogor. Kami sampai di daerah Kalisuren. Disana ada beberapa perumahan dengan harga yang jauh lebih murah. Dibawah 100 juta. Kami pun masuk ke dalam perumahan tersebut. Kami sengaja tidak ke kantor pemasaran terlebih dahulu karena ingin melihat suasana lingkungan. Di dalam perumahan tersebut ternyata sudah cukup ramai dengan penghuninya. Bahkan banyak yang sudah direnovasi dari bangunan awal. Bangunan rumah sepertinya lebih sederhana dari yang kami lihat di Sawangan. Atapnya juga tidak menggunakan baja ringan. Ya menurut saya, sesuailah dengan harga yang ditawarkan. Setelah melihat sekeliling perumahan itu, kami pun mencari informasi ke kantor pemasaran. Ternyata itu memang perumahan murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Yang membeli rumah di perumahan tersebut kebanyakan orang-orang yang bekerja disektor informal.

Lingkungan sekitar perumahan di Kalisuren tersebut masih banyak kebun dengan pohon-pohon yang rindang dan bila malam hari akses menuju perumahan dari arah Depok lumayan bikin bulu kuduk merinding. Tentu saja hal ini yang membuat isteri agak kurang sreg. Ia khawatir, karena saya bila pulang kerja bisa di atas jam 10 malam. Dan untuk keluarga besar kami, sepertinya terlalu jauh bila ingin berkunjung. Meskipun harganya sangat bersahabat, akhirnya diputuskan untuk tidak memasukkan dalam daftar kami.

Perburuan kami dihari pertama pun selesai.

Jumat, 02 Januari 2015

Ketika Mama tiada

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

Ketika Mama tiada, adalah awal kehidupan ku yang baru. Dimana aku belajar memahami tentang hidup. Dimana aku dikembalikan kepada permulaan pertanyaan.
 “Siapa aku ? dan apa tujuan ku ?”

Ketika Mama tiada, adalah awal aku belajar tentang berserah diri. Menyerah total kepada Sang Khalik. Mengimani dan selalu berbaik sangka atas segala ketentuan-Nya.

Ketika Mama tiada, aku mulai mengetahui dan memahami arah jalan pulang dan terus berupaya agar tidak tersesat, hingga nanti aku pun akan pulang.

Subhanallah…Subhanallah…Subhanallah…Tiada daya dan upaya kecuali dari Mu Ya Rabb

Terima kasih Mama, semoga kita akan dipertemukan lagi di rumah tempat kita kembali yang sesungguhnya…amin.

Kamis, 01 Januari 2015

Sabar adalah Hasil

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Sering aku mendengar orang berkata,
“Kesabaran saya sudah habis.” atau, “untung saya masih bisa bersabar”, dan berbagai ucapan lainnya yang sejenis.
Seolah-olah sabar itu adalah tindakan atau perbuatan.
Menurutku hal seperti itu disebut orang sabar yang disabar-sabarin.
Kalau boleh kita kaji sedikit, istilah sabar adalah orang yang tunduk pada ketentuan Tuhan. Ketentuan Tuhan yang berlaku dalam kehidupan manusia banyak macamnya, sehingga ada perasaan senang dan susah. Kalau kita bisa tunduk pada semua ketentuan-Nya, insya Allah kita termasuk orang-orang yang berserah diri. Menyerah sepenuhnya pada Tuhan itulah orang-orang yang sabar.
Salah satu cara adalah selalu berbaik sangka atas semua ketentuan Tuhan yang berlaku atas diri. Susah dan senang adalah permainan rasa yang bila kita mau menyelami ketaatan kita, maka tiada lagi rasa yang macam-macam tersebut. Nanti hanya ada satu rasa…dan bila sudah masuk ke sana orang lain yang akan menilai sabar dalam diri kita, sebab itu adalah hasil dari apa yang kita lakukan.
Semoga Tuhan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang berserah diri…amin